#174 Hikmah Hidup Bersama Keluarga Siang Malam

Di jepang, saya belajar Bahasa Jepang di kampus papa nya.. Saat ini saya sedang memasuki kelas B, nama sensei yang mengajarkan saya adalah Nagasaki.. Sempat pada tanggal 30 Mei 2016, pada saat itu saya datang ke kelas 5menit sebelum waktu di mulai, dan temen-temen lain belum pada datang.. Jadi pada saat itu saya ngobrol sama sensei saya tentang, kabar istimewa hari ini.. Saya bercerita tentang kehadiran saya di perayaan ulang tahun anak saya di sekolah tk nya.. Saya bilang, saya mendapat sedikit pengalaman bagaimana perayaan ulang tahun di sekolah dan saya juga melihat bagaimana cara anak saya berkomunikasi dengan sensei nya.. Lalu, secara tak sengaja, sensei saya ini juga berbalik cerita tentang masa lalu nya, ketika anak nya masih kecil.. Kami berbincang dengan menggunakan bahasa Inggris sedari menunggu teman-teman yang lain datang..

Sensei saya bercerita bahwa dulu beliau juga mengalami hal yang sama dengan saya.. Dia memiliki 2 orang anak laki-laki.. Pada saat anak nya yang pertama berumur 4tahun, dia sekeluarga tinggal di Berlin, Jerman selama 2tahun.. Anak nya itu juga sekolah TK di sana.. Katanya, anak nya perlu penyesuaian sekolah di sana selama 3bulan.. Selama 3bulan pertama, anaknya agak sedikit diam, tidak banyak bicara.. Kemudian, setelah 2tahun tinggal di jerman, beliau hijrah lagi ke amerika, lalu anak nya perlu penyesuaian bahasa lagi.. Menggunakan bahasa sana.. Mereka tinggal di Amerika selama 2tahun.. Kemudian setelah itu, mereka kembali ke Jepang, dan anak nya perlu penyesuaian bahasa lagi, Bahasa Jepang.. Kata sensei saya, memang agak berat membawa anak ke luar negeri lalu penyesuaian bahasa dan komunikasi bersama teman-teman nya.. Akan tetapi, pesan sensei saya “kita harus tetap mengajarkan dan menjaga bahasa asli kita bila kita tinggal di luar negeri hanya sebentar, bila tinggal di luar negeri untuk waktu lama, boleh kita benar-benar mengajarkan bahasa negeri itu dan berkomunikasi menggunakan bahasa di tempat kita tinggal.. Memang agak berat dan kasihan untuk mengajarkan bahasa pada anak pada umuran 4-7tahun.. Tapi usahakan untuk tetap berkomunikasi menggunakan bahasa ibu pertiwi bila kita tinggal di luar negeri hanya sementara..” Kata sensei saya, ketika mereka kembali ke tanah air nya (Jepang), anak-anak nya sudah lupa tentang Bahasa Jerman dan Bahasa Amerika (Inggris), tapi kalau mendengar Bahasa Jerman dan Amerika, mereka tau, tapi hanya sekedar tahu.. Lalu sensei saya menunjukkan album foto beliau selama tinggal di jerman.. Kenangan masa lalu nya ketika anak nya berumur 4 tahun.. Dan sekarang anak nya sudah berumur 43tahun.. Album kenangan foto itu masih tersimpan sangat bagus sekali, berikut dengan sedikit catatan cerita nya..

Dari cerita sensei saya ini, terinspirasi buat saya untuk mempersembahkan cerita-cerita di blog ini untuk kedua buah hati saya yang sedang menikmati kehidupan di Jepang.. Kenangan yang mungkin tak dapat kembali, namun hanya bisa diulang dan diingat dalam rangkaian kata-kata dan foto..

Hikmah bersama keluarga : 

Anak-anak dan suami, semua menjadi kekuatan ku.. 

  1. Akira, Saya ingat pada saat Akira rawat inap di rumah sakit ibu dan anak di Kofu, dia main dan beraktivitas dengan satu tangan karena tangan satu nya diinfus, tapi dia tetap bisa gambar dan mewarnai, berkreasi dengan mainan plus-plus, merangkai origami nya, makan dan pipis sendiri. Sugoi memang anak ini.. Anak-anak memang tidak memiliki rasa sulit atau susah, mereka semua menghadapi kehidupan ini dengan menjalani nya tanpa kesulitan dan keluhan.. Alhamdulillah.. Pergi ke sekolah dengn keterbatasan bahasa pun mereka jalankan tanpa ada rasa tak ingin, sukit berkomunikasi atau apapun yang negatif itu.. 
  2. Adek Akari, masih senang sekolah walaupun tidak bisa Bahasa Jepang dan berani sekolah sendiri tanpa ditemani kakak Akira yang saat itu sedang sakit, pasahal itu masih bulan pertama di sekolah.. Dia pun masih dengan senang hati pergi ke sekolah.. 
  3. Papa.. Papa yang membuat ku begini, membuat ku merayap, merangkap, duduk dan berdiri, berjalan dan berlari sendiri bahkan sedikit tersandung hingga terjatuh.. Dia, dia yang membuatku menjadi orang yg harus berusaha sendiri dan mandiri, tanpa banyak bicara, tanpa banyak mengajarkan bahasa jepang, tanpa banyak memberitahu apapun tentang jepang.. Dan saya harus mencari tahu sendiri.. Apapun itu, dalam keseharian bangun tidur, mandi, sarapan, lalu berangkat, pulang malam, sudah capek, makan lalu tidur.. Tak ada yang kami bicarakan.. Begitu lagi keesokan hari nya.. Hhhmmm.. 
  4. Aku, Dan semua itu harus dari aku dan motivasi ku sendiri.. Bukan paksaan dari orang lain.. Aku baik karena aku, aku ingin menjadi apa karena aku, bukan karena orang lain.. Orang lain hanya supporter..

Itulah yg menjadi kekuatan saya untuk dan menjadi motivasi saya untuk masih bisa tinggal disini. Anak-anak bisa, dan biasa saja menghadapi hidup.. Saya juga harus bisa menghadapi hidup ini dengan bahagia.. Kebersamaan ini lah yang menjadi kekuatan saya dalam menjaga dan mendekatkan diri dengan anak-anak.. Menjadi tantangan bagi saya bila anak dan suami saya mengeluhkan sesuatu yg mengharuskan saya untuk berubah menjadi lebih baik, misalnya dalam hal selera makan.. Sangat tertantang sekali kalau mereka protes tentang hasil masakan yang tidak memuaskan nafsu makan mereka.. Waktu bersama keluarga ini merupakan kesempatan saya mengenali karakter dan pribadi saya sendiri, mengetahui mana yang menjadi kewajiban saya dan mana yang merupakan motivasi saya agar dapat membantu dan mendukung kewajiban dan tugas suami.. Keluarga merupakan semangat saya dalam memperbaiki kehidupan saya, bisa memahami dan memilih hal-hal yang berlalu bagi saya yang patut saya kerjakan dan hal lain yang perlu saya tinggalkan.. Namun yang utama adalah memenuhi kebutuhan dan menemani anak-anak.. 

Curhatan lagi keselip di dalam nya.. 

Sudah larut malam, tidur dulu karena sudah capek, besok harus bangun lagi nyiapin sahur jam 01.30..

Kofu Shi, Yamsnashi Ken, Japan

29 Juni 2016.. Ramadhan ke 24..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s